Friday, September 12, 2008
1:35 PM

0 comments

Jelang PEMILU 2009

posted by rakiyat endonesya
Menjelang Pemilu 2009 suasana nggak nyaman sudah terasa. Dimana-mana terpampang bendera maupun atribut partai peserta pemilu. Naruhnya di sembarang tempat. Ada yang di tiang listrik, tembok tetangga, tembok sekolah, pagar kuburan, ada juga yang naruhnya di gerobak kaki lima.

Kenapa orang-orang partai itu jarang mempunyai kecerdasan estetik ya? Asal jembreng dimana saja yang menurut mereka gampang dilihat orang. Padahal KPU sudah menentukan tentang tata cara pemasangan atribut partai untuk pemilu, tapi sepertinya dicuekin saja.

Terus terang saja, mata Rakiyat terganggu banget dengan pemandangan atribut partai-partai itu. Sebab bagi Rakiyat, keberadaan partai tak memberikan efek positif apalagi konstruktif buat Rakiyat dan orang miskin bangsa endonesya. Orang-orang partai, kebanyakan justru menjadikan partai untuk cari duit bagi keluarganya sendiri.

Rakiyat punya tetangga yang mencalonkan diri sebagai CALEG dari salah satu partai. Dalam obrolan nggak resmi, dia berharap dengan jadi ALEG, kehidupan keluarganya akan lebih sejahtera. Dia sudah membayangkan gaji dan fasilitas sebagai anggota legislatif. Mungkin bukan cuma Rakiyat saja yang punya tetangga macam begitu.

Rakiyat jadi ingat lagu yang dinyanyikan Sawung Jabo, yaitu tentang Pangeran Brengsek yang kepingin jadi CALEG. Padahal dia cuman orang Gebleg!
Wednesday, May 16, 2007
10:53 PM

3 comments

SIM : Bikin atau Beli?

posted by rakiyat endonesya
Tadi siang Rakiyat mau bikin Surat Ijin Mengemudi (SIM) C. Selama ini Rakiyat jalan-jalan pakai motor tanpa SIM. Teman-teman menyarankan agar bikin SIM saja. Rakiyat turuti saja karena banyak manfaatnya.

Sampailah Rakiyat di markas kepolisian. Di tembok Kantor Pelayanan SIM itu ada poster besar bertuliskan harga pembuatan SIM. Untuk SIM baru Rp.75.000,- sedangkan SIM Perpanjangan Rp.60.000,-. Di depan loket, Rakiyat barteran kwitansi vs uang. Rakiyat berikan 75 ribu, petugas SIM memberikan kwitansi sebagai bukti pendaftaran bikin SIM. Setelah itu Rakiyat diminta untuk melakukan Tes Kesehatan, Rp. 15 ribu perak. Gak ada yang dites, cuma mengisi formulir dan beberapa pertanyaan yang jawabnya tinggal beri tanda centang saja. Misalnya, merokok atau tidak? Pernah sakit jantung? Pernah bego? Pernah tidur sama artis anu... (gak deng) dll... Tes Ishihara (buta warna) juga cuma 4 lembar saja.

Setelah selesai, kembali ke Loket untuk mendapatkan berkas yang harus disampaikan kepada petugas TES. Kemudian masuk ke ruang tes tertulis. Ada 20 pertanyaan yang harus diisi. Untung Rakiyat sudah dapat informasi dari telik sandi, "Nggak usah serius! Asal contreng saja! Sebab kita tak akan pernah lulus dalam tes tertulis itu! Saya saja cuma salah 1 tetap nggak lulus!" katanya.

20 pertanyaan selesai dalam 20 contrengan. mungkin cuma 20 detik. Lembaran jawaban itu Rakiyat serahkan kepada petugas di depan ruangan. Ia memperhatikan lalu memeriksa lembar jawaban. "Tuh, salah 4. Kamu tidak lulus. Nanti kembali lagi tanggal..... " Sebelum dia menuliskan tanggal harus kembali pada kwitansi pendaftaran seharga Rp.75.000,- Rakiyat langsung menyela, "Tak bisa pak. Saya hanya punya waktu hari ini saja, sebelum Dzuhur sudah harus kembali bekerja."

Petugas itu memperhatikan, "Jadi harus sekarang juga?! Ya sudah tunggu di luar, nanti saya panggil." Tak lama Rakiyat menunggu, akhirnya bertemu kembali dengan petugas di ruang Tes Tertulis itu. "Kamu bisa bayar nggak? Soalnya kalau mau hari ini juga, harus ada biaya di luar yang 75 tadi." Demikian informasinya.

"Berapa sih, pak?" Rakiyat tanya. Ia menuliskan angka 125.000 di lembaran kertas. "Oh, segitu sih, ada pak!" Rakiyat kira harus bayar sampai jutaan. Akhirnya ia memerintahkan membayar di ruang 81.

Di Ruang 81 hanya beberapa detik saja. Ruang itu berpenghuni seonggok daging yang sedang menghitung uang. Rakiyat serahkan map dan Rupiahnya. Ia langsung menyuruh masuk ke ruang foto. Sebentar pula, Rakiyatpun selesai MEMBELI SIM C.

Belum usai...

Di luar, sebelum pulang, ada 2 orang yang mendekati Rakiyat, "Kayaknya saya lebih pagi dari Bapak. Tapi kok Bapak duluan yang dapat sim? Memang Lulus pak waktu tes tertulis?" tanya salah satunya. Rakiyat bilang apa adanya, "Mana ada yang lulus. Saya nggak lulus, makanya saya nggak jadi bikin SIM. "Nah SIM ini (Rakiyat tunjukkan kepada mereka) saya dapat karena BELI, bukan BIKIN." Kedua orang itu melongo. Salah satunya bilang kalau dia sudah 3X daftar dan tes, namun tak lulus juga. Akhirnya mereka termotivasi untuk membeli SIM seperti yang Rakiyat lakukan, bukan mengurus SIM. Kalau ngurus SIM biayanya Rp.75.000,- plus Tes Kesehatan Rp.15.000,- Lha kalau beli jadinya lebih mahal, 75 ribu + 15 ribu + 125 ribu, totalnya 215 ribu.

Apakah praktik seperti ini hanya terjadi di kantor kepolisian tempat Rakiyat beli SIM?

1:31 AM

4 comments

SMS Pilgub DKI

posted by rakiyat endonesya

2 kali dapat SMS dari nomor yang nggak dikenal. Isinya, mengingatkan kalau Rakiyat belum terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. hm... mestikah ikutan?

Rakiyat coba mikirin calon-calon yang ada, Foke alias Fauzy Bowo yang sekarang masih jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Adang Dorojatun, dan mungkin Sarwono Kusuma Atmaja. Dari ketiga calon yang ada, tak satupun yang bisa Rakiyat percaya. Masing-masing diusung oleh partai politik yang sampai hari ini masih membuat perut mules. Entah sampai kapan Rakiyat tak bisa membenci orang-orang parpol. Tahu sendiri kan, kebanyakan anggota parlemen kita di Dewan Penipu Rakyat, eh maaf salah, maksud Rakiyat Dewan Pewalian Raja itu menunjukkan perilaku yang tak menyenangkan bagi hati nurani rakyat. Mereka sering mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan perut mereka sendiri. Eh nggak sendiri deh, bareng-bareng kok sama keluarga dan kroninya.

Walaupun Wimar Witoelar (busyet, jadi triple W) nyaranin untuk tetap milih salah satu, sejujurnya, Rakiyat masih belum siap ditipu untuk kesekian kalinya oleh para politisi endonesya. Rakiyat masih memimpikan agar mereka kembali ke jalan yang benar. Walaupun kadang mereka mengatasnamakan kebenaran, tapi menurutku, mereka hanya menyuarakan "kebetulan", bukan kebenaran.

Jadi? Ya... sementara ini Rakiyat nggak ikutan milih deh. Terserah, siapa yang bakalan jadi gubernur. Tokh kalau mereka terpilih, pasti yang pertamakali mereka pikirkan adalah :
1. Bayar jasa parpol yang mengusungnya
2. Kumpulin kroni untuk mengamankan kedudukan dan bisnisnya
3. Cari rejeki (baca: korupsi) untuk mengembalikan modal kampanye
4. Terakhir..... Nyiksa rakyat lagi deh!
Tuesday, May 15, 2007
10:18 AM

0 comments

rakiyat endonesya

posted by rakiyat endonesya
Perkenalkan!
Aku rakiyat endonesya.
Aku sering dikorbankan, untuk kepentingan negara.
Aku sering dipojokkan, saat negaraku dianggap terbelakang.
Aku dibutuhkan, saat para petinggi negara membutuhkan suara.
Aku dilupakan, ketika mereka punya kuasa.
Aku adalah provokator, ketika aku jujur menyatakan kebenaran.
Aku adalah teroris, ketika aku tak bisa menahan kesal.
Aku adalah rakiyat endonesya
Mungkin kamu, bisa menambah kata
tentang siapa aku....

Silakan saja...